SEKILAS MENGENAI AHBABUL MUSTHOFA

Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf
adalah salah satu putra dari 16 bersaudara putra-putri Alm. Al-Habib Abdulkadir bin Abdurrahman Assegaf ( tokoh alim dan imam Masjid Jami' Asegaf di Pasar Kliwon Solo), berawal dari pendidikan yang diberikan oleh guru besarnya yang sekaligus ayah handa tercinta, Habib Syech mendalami ajaran agama dan Ahlaq leluhurnya. Berlanjut sambung pendidikan tersebut oleh paman beliau Alm. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf yang datang dari Hadramaout. Habib Syech juga mendapat pendidikan, dukungan penuh dan perhatian dari Alm. Al-Imam, Al-Arifbillah, Al-Habib Muhammad Anis bin Alwiy Al-Habsyi (Imam Masjid Riyadh dan pemegang magom Al-Habsyi). Berkat segala bimbingan, nasehat, serta kesabaranya, Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf menapaki hari untuk senantiasa melakukan syiar cinta Rosull yang diawali dari Kota Solo. Waktu demi waktu berjalan mengiringi syiar cinta Rosullnya, tanpa di sadari banyak umat yang tertarik dan mengikuti majelisnya, hingga saat ini telah ada ribuan jama'ah yang tergabung dalam Ahbabul Musthofa. Mereka mengikuti dan mendalami tetang pentingnya Cinta kepada Rosull SAW dalam kehidupan ini.
Ahbabul Musthofa, adalah salah satu dari beberapa majelis yang ada untuk mempermudah umat dalam memahami dan mentauladani Rosull SAW, berdiri sekitar Tahun1998 di kota Solo, tepatnya Kampung Mertodranan, berawal dari majelis Rotibul Haddad dan Burdah serta maulid Simthut Duror Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf memulai langkahnya untuk mengajak ummat dan dirinya dalam membesarkan rasa cinta kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW .

KEGIATAN AHBABUL MUSTHOFA

Pengajian Rutin (zikir & sholawat)
setiap hari Rabu Malam dan Sabtu Malam Ba'da Isyak di Kediaman Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf .
Pengajian Rutin Selapanan Ahbabul Musthofa
- Purwodadi ( Malam Sabtu Kliwon ) di Masjid Agung Baitul Makmur Purwodadi.
- Kudus ( Malam Rabu Pahing ) di Halaman Masjid Agung Kudus.
- Jepara ( Malam Sabtu Legi ) di Halaman Masjid Agung Jepara .
- Sragen ( Malam Minggu Pahing ) di Masjid Assakinah, Puro Asri, Sragen.
- Jogja ( Malam Jum'at Pahing ) di Halaman PP. Minhajuttamyiz, Timoho, di belakang Kampus IAIN.
- Solo ( Malam Minggu Legi ) di Halaman Mesjid Agung Surakarta.

BIOGRAPHY HABIB SYECH BIN ABDULKADIR ASSEGAF

Habib Syech bin Abdulkadir Assegaf was born in Solo city, Indonesia. When he was young he was the ‘muazzin’ for the Assegaf Mosque in Solo. At times, he read the Qasidah at Masjid Riyadh with the late Habib Anis Al Habsyi. He regularly led the singing and reading of Qasidah and ‘Sholawat’ with Majlis of Ahbaabul Mushthofa with the various Wirid such as Ratib Al Attas, the Diwan and ‘Sholawat’ of Habib Ali Al-Habsyi and the Diwan and Qasidah of the famous Imam Abdullah Al Haddad

para tokoh ulama

para tokoh ulama
Foto bersama KH. Sya'roni Ahmadi dan Habib Alwi Ba'agil

CD QOSIDAH

CD QOSIDAH

NADA SAMBUNG QOSIDAH

NADA SAMBUNG QOSIDAH

ASHAB AHBABUL MUSTHOFA KUDUS

ASHAB AHBABUL MUSTHOFA KUDUS
Tampilkan postingan dengan label ahbaabul musthofa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ahbaabul musthofa. Tampilkan semua postingan

07 April, 2010

Nasehat Kematian dari Umar bin Abdul Aziz r.a

http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/umar-bin-abdul-aziz.jpg



Suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz r.a mengiringi jenazah. Ketika semuanya telah bubar, Umar dan beberapa sahabatnya tidak beranjak dari kubur jenazah tadi. Beberapa sahabatnya bertanya, “wahai Amirul Mukminin, ini adalah jenazah yang engkau menjadi walinya. Engkau menungguinya disini lalu akan meninggalkannya“.

Umar berkata, “Ya. Sesungguhnya kuburan ini memanggilku dari belakang. Maukah kalian kuberitahu apa yang ia katakan kepadaku?“.

Mereka menjawab, “Tentu”.

Umar berkata, “Kuburan ini memanggilku dan berkata, ‘Wahai Umar bin Abdul Aziz, maukah kuberitahu apa yang akan kuperbuat dengan orang yang kau cintai ini?‘, “Tentu“, jawabku.

Kuburan itu berkata, “Aku bakar kafannya, kurobek badannya dan kusedot darahnya serta kukunyah dagingnya. Maukah kau kau kuberitahu apa yang kuperbuat dengan anggota badannya?“.

“Tentu“, jawabku.

Aku cabut (satu per satu dari) telapak ke tangannya, lalu dari tangannya ke lengan dan dari lengan menuju pundak. Lalu kucabut pula lutut dari pahanya. Dan paha dari lututnya. Ku cabut pula lutut itu dari betis. Dan dari betis menuju telapak kakinya“.

Lalu Umar bin Abdul Aziz menangis dan berkata,

Ketahuilah, umur dunia hanya sedikit. Kemuliaan didalamnya adalah kehinaan. Pemudanya akan menjadi renta, dan yang hidup didalamnya akan mati. Celakalah yang tertipu olehnya.

Janganlah kau tertipu oleh dunia. Orang yang tertipu adalah yang tertipu oleh dunia. Dimanakah penduduk yang membangun suatu kota, membelah sungai-sungainya dan menghiasinya dengan pepohonan, lalu tinggal di dalamnya dalam jangka waktu sangat pendek. Mereka tertipu, menggunakan kesehatan yang dimiliki untuk berbuat maksiat.

Demi Allah, di dunia mereka dicengkeram oleh hartanya, tak boleh begini dan begitu, dan banyak orang yang dengki kepadanya. Apa yang diperbuat oleh tanah dan kerikil kuburan terhadap tubuhnya? Apa pula yang diperbuat binatang-binatang tanah terhadap tulang dan anggota tubuhnya?

Dulu, di dunia mereka berada di tengah-tengah keluarga yang mengelilinginya. Diatas kasur yang empuk dan pembantu yang setia. Keluarga yang memuliakan dan kekasih yang menyertainya. Tetapi ketika semuanya berlalu dan maut datang memanggil, lihatlah betapa dekat kuburan dengan tempat tinggalnya. Tanyakan kepada orang kaya, apa yang tersisa dari kekayaannya? Tanyakan pula kepada orang fakir, apa yang tersisa dari kefakirannya?

Tanyalah mereka tentang lisan, yang sebelumnya mereka gunakan berbicara. Juga tentang mata yang mereka gunakan melihat hal-hal yang menyenangkan. Tanyakan tentang kulit yang lembut dan wajah yang menawan serta tubuh yang indah, apa yang dilakukan cacing tanah terhadap itu semua? Warnanya pudar, dagingnya dikunyah-kunyah, wajahnya terlumuri tanah. Hilanglah keindahannya. Tulang meremuk, badan membusuk dan dagingnya pun tercabik-cabik.

Dimanakah para punggawa dan budak-budak? Dimana kawan, dimana simpanan harta benda? Demi Allah, mereka tidak membekali si mayit dengan kasur, bahkan tongkat untuk bertopang sekalipun. Dahulu dirumah mereka merasakan kenikmatan. Kini ia tenggelam dibawah benaman tanah. Bukankah kini mereka tinggal ditempat yang lusuh dan menjijikan? Bukankah sama saja bagi mereka; siang dan malam? Bukankah sekarang mereka tenggelam dalam pekatnya kegelapan? Tak ada lagi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang tercinta.

Berapa banyak orang yang dulunya mulia, kini wajahnya hancur. anggota badannya tercerai berai. Mulut mereka belepotan dengan darah dan nanah. Binatang-binatang tanah mengerubuti jasad mereka, sehingga satu per satu anggota tubuh terlepas. Hingga akhirnya tak tersisa, kecuali hanya sebagian kecil saja. Mereka telah meninggalkan istananya. Berpindah dari tempat lapang ke lubang yang sempit. Sesudah itu, istri-istri mereka dinikahi orang lain. Anak-anaknya pun berkeliaran dijalan. Harta bendanya dibagi-bagi oleh ahli warisnya.

Diantara mereka, ada pula yang dilapangkan kuburnya. Diberi kenikmatan dan bersenang-senang dengannya didalam kubur. Tetapi ada pula yang di adzab dalam sempitnya lubang kubur. Menyesali apa yang telah mereka kerjakan.


Umar lalu menangis dan berkata, “Wahai yang menjadi penghuni kubur esok hari, bagaimana dunia bisa menipumu? Dimana kafanmu? Dimana minyak (wewangian untuk orang mati)mu dan dimana dupamu? Bagaimana nanti ketika kamu telah berada dalam pelukan bumi. Celakalah aku, dari bagian tubuh yang mana pertama kali cacing tanah itu melumatku? Celakalah aku, dalam keadaan bagaimana aku kelak bertemu dengan malaikat maut, saat ruhku meninggalkan dunia? Keputusan apakah yang akan diturunkan oleh Rabbku?“.


Ia menangis dan terus menangis, lalu pergi . Tak lebih dari satu pekan setelah itu, ia meninggal. Semoga Beliau dirahmati Allah

Kunjungan Presiden Sukarno ke Amerika Serikat tahun 1956.

Kunjungan Presiden Sukarno ke Amerika Serikat tahun 1956. Ketika tiba saatnya shalat, Bung Karno dan rombongan menuju salah satu masjid di sana untuk bersujud .

Spoiler for bung karno:


Spoiler for bung karno:


Spoiler for bung karno:


Spoiler for bung karno:


Spoiler for bung karno:


Spoiler for bung karno:


Spoiler for bung karno:


Spoiler for bung karno:

07 Juni, 2009

Hati-Hati Kaligrafi Kristiani Dijual Bebas

Bisa dipastikan, hampir tak seorang pun umat Islam yang tidak menyukai kaligrafi Islam yang memuat ayat-ayat tertentu dari Al-Qur‘an. Misalnya, kaligrafi khat Arab bacaan Allah, Allahu Akbar, Muhammad, Basmalah, ayat Kursi, surat Al-Fatihah, dll. Ini adalah hal yang baik dan perlu dilestarikan. Sebab memajang ayat-ayat dengan tulisan indah di rumah adalah salah satu ekspresi kecintaan kepada Al-Qur‘an.

Tetapi, untuk kaligrafi model satu ini –dan kaligrafi lainnya yang sejenis– kaum Muslimin jangan tertipu oleh musang berbulu ayam. Sebab kaligrafi ini pun indah dan dijual bebas di berbagai toko buku. Kaligrafi melingkar ukuran setengah meter persegi ini bagian tengahnya bertuliskan “abana” yang berarti “bapa kami”. Dalam teologi Kristen, kata ini berarti Allah (Allah Bapak). Bila dibaca dengan teliti, maka bacaan yang lengkap adalah “abana alladzi fis-samawati….dst”.

Kaligrafi-Abana

Tanyakanlah kepada ustadz yang hafal Al-Qur‘an, ayat tersebut ada di surat apa dan ayat berapa? Pasti ustadz tersebut akan geleng-geleng kepala seraya menjawab bahwa itu bukan ayat Al-Qur‘an. Jawaban ini tepat sekali, karena kaligrafi ini bukan Al-Qur‘an, tapi ayat Bibel, tepatnya Injil Matius pasal 6 ayat 9-13 yang terjemah Indonesianya demikian:

“Karena itu berdoalah demikian: Bapak kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan jangan­lah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.”

Entah sudah berapa banyak kaum Muslimin yang menghiasi rumah­nya dengan ayat Bibel berupa kaligrafi kristiani tersebut, mengingat kaligrafi itu dijual di seluruh Indonesia. Padahal sebutan “Bapak Kami” kepada Allah adalah kesalahan besar yang bertentangan dengan Al-Qur`an surat Al-Ikhlash 1-4.

06 Juni, 2009

Kiat Sehat Ala Rasulullah SAW

Rasulullah bersabda: "Mu'min yang kuat adalah lebih baik dan lebih dicintaiAllah daripada mu'min yang lemah" (HR Muslim)
Bagaimana agar senantiasa sehat seperti Rasulullah? Ikuti resep berikut:
1. SELALU BANGUN SEBELUM SHUBUH. Rasul selalu mengajak ummatnya untuk bangun sebelumshubuh, melaksanakan sholat sunah dan sholat Fardhu,sholat shubuh berjamaah. Hal ini memberi hikmah ygmendalam antara lain : - Berlimpah pahala dari Allah - Kesegaran udara shubuh yg bagus u/ kesehatan misalu/ terapi penyakit TBC - Memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan
2. AKTIF MENJAGA KEBERSIHAN. Rasul selalu senantiasa rapi & bersih, tiap hari kamisatau Jumát beliau mencuci rambut2 halus di pipi,selalu memotong kuku, bersisir dan berminyak wangi. "Mandi pada hari Jumát adalah wajib bagi setiap orang2dewasa. Demikian pula menggosok gigi dan memakaiharum-haruman"(HR Muslim)
3. TIDAK PERNAH BANYAK MAKAN. Sabda Rasul : "Kami adalah sebuah kaum yang tidak makan sebelumlapar dan bila kami makan tidak terlalu banyak (tidaksampai kekenyangan)"(Muttafaq Alaih) Dalam tubuh manusia ada 3 ruang untuk 3 benda :Sepertiga untuk udara, sepertiga untuk air dansepertiga lainnya untuk makanan. Bahkan ada satutarbiyyah khusus bagi ummat Islam dg adanya PuasaRamadhan untuk menyeimbangkan kesehatan
4. GEMAR BERJALAN KAKI. Rasul selalu berjalan kaki ke Masjid, Pasar, medan jihad, mengunjungi rumah sahabat, dansebagainya. Dengan berjalan kaki, keringat akan mengalir, pori2terbuka dan peredaran darah akan berjalan lancar. Inipenting untuk mencegah penyakit jantung
5. TIDAK PEMARAH. Nasihat Rasulullah : "Jangan Marah" diulangi hingga 3kali. Ini menunjukkan hakikat kesehatan dan kekuatanMuslim bukanlah terletak pada jasadiyah belaka, tetapilebih jauh yaitu dilandasi oleh kebersihan dankesehatan jiwa. Ada terapi yang tepat untuk menahan marah: - Mengubah posisi ketika marah, bila berdiri makaduduk, dan bila duduk maka berbaring - Membaca Ta 'awwudz, karena marah itu dari Syaithon - Segeralah berwudhu - Sholat 2 Rokaat untuk meraih ketenangan danmenghilangkan kegundahan hati
6. OPTIMIS DAN TIDAK PUTUS ASA. Sikap optimis akan memberikan dampak psikologis yangmendalam bagi kelapangan jiwa sehingga tetap sabar,istiqomah dan bekerja keras, serta tawakal kepadaAllah SWT
7. TAK PERNAH IRI HATI DAN BURUK SANGKA. Untuk menjaga stabilitas hati & kesehatan jiwa,mentalitas maka menjauhi iri hati dan buruk sangkamerupakan tindakan preventif yang sangat tepat

Berjalan Di Jalan Para Salafunas Sholihin

Jaman berganti jaman hingga jaman kita sekarang ini tidak akan pernah lepas dengan apa yang dinamakan "fitnatuz zaman" (fitnah jaman). Berbagai fitnatuz zaman telah menerpa kita umat Islam, khususnya bagi Bani Alawy yang mempunyai garis keturunan dengan Rasulullah SAW. Fitnatuz zaman tersebut ada yang berkenaan dengan materi dan keduniaan, dan ada juga yang berkenaan dengan agama dan akidah. Fitnatuz zaman yang terakhir inilah yang paling mengkhawatirkan bagi kita. Diakhir-akhir jaman ini, banyak kita jumpai di antara kita, mereka yang terkena fitnatuz zaman berupa agama dan akidah, sehingga mereka berpaling dari apa-apa yang dituntunkan oleh agama. Mereka berani untuk mengambil "jalan" yang berbeda dengan apa-apa yang telah ditempuh oleh orangtua-orangtua mereka yang sholeh. Mereka bahkan dengan bangga menunjukkan jalan yang mereka pilih sendiri, seakan-akan mereka baru saja menemukan jalan baru menuju kepuasan beragama dan berakidah. Ini semua dapat disebabkan karena begitu hebatnya pengaruh lingkungan yang membentuk pemikiran mereka. Mereka bisa jadi orang yang kurang mengenyam pendidikan agama dan akidah, atau bahkan sebalikya, mereka adalah orang-orang yang oleh sebagian orang disebut sebagai "cendikiawan" yang begitu berbangga akan pemikiran-pemikiran barunya. Hanya saja yang pasti mereka kurang mengenal jalan yang ditempuh oleh orangtua-orangtua mereka yang sholeh, sehingga mereka tergelincir mengikuti jalan-jalan yang lain. Mungkin dalam hal ini, kita akan merasa malu jika saja kita bisa melihat bagaimana sejarah dan perjalanan hidup para ulama besar Islam yang begitu tawadhu'. Tidaklah mereka mengamalkan sesuatu melainkan mereka telah melihat itu diamalkan oleh generasi sebelum mereka. Kita dapat menyimak perkataan Al-Hafidz Ibnu Rajab tentang hal ini dalam bukunya Fadhlu Ilmis Salaf Alal Khalaf,"Para imam dan fuqaha ahli hadits sesungguhnya mengikuti hadits shahih, jika hadits tersebut telah diamalkan di kalangan para sahabat atau generasi sesudahnya, atau oleh sebagian dari mereka. Adapun apa yang disepakati untuk ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan, karena mereka tidak akan meninggalkannya kecuali atas dasar pengetahuan bahwa ia memang tidak diamalkan. Umar Ibin Abdul Aziz berkata, 'Ambillah pendapat yang sesuai dengan orang-orang sebelum kalian, karena mereka lebih mengetahui daripada kalian' ". Meskipun mereka, para imam dan fugaha ahli hadits, adalah para ulama besar, tapi mereka tidak pernah bangga akan ketinggian ilmunya. Sebaliknya, mereka begitu tawadhu' dan merasa bukan apa-apa dibandingkan dengan para pendahulunya. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Ibnu Hajar, Ar-Romly, Al-Khatib, Al-Qasthalany, Fakhrur Razy, dan ulama-ulama besar selainnya, dimana mereka berkata, "Tidak ada sesuatu yang merupakan hasil dari usaha keras kami (karena semuanya berkat salaf). Al-Habib Muhammad bin Hadi As-Saqqaf juga pernah berkata,"Demikianlah kami ini yang selalu teledor untuk tidak berjalan mengikuti salaf kami. Kalau saja kami ini berjalan diatas jalan yang telah ditempuh oleh para salaf kami, maka pasti kami akan mendapatkan apa-apa yang mereka dapatkan, dan kami dapat menjadi seperti mereka. Padahal kita tahu bagaimana kedalaman ilmu dan ketinggian maqam dari Al-Habib Muhammad bin Hadi As-Saqqaf. Namun toh demikian, semuanya tidaklah membuat beliau berbangga diri, akan tetapi merasa kecil di hadapan salafnya. Sikap inilah yang senantiasa membawa beliau untuk selalu berjalan di jalan para salafnya. Hal yang senada juga diungkapkan oleh Al-Imam Abubakar As-Sakron,"Kami ini tidak punya apa-apa. Hanya saja mereka (para salafunas sholihin) berjalan dengan kaki mereka, lalu kami ikut berjalan pada bekas tapak kaki mereka. Asy-Syeikh Umar Al-Muhdhor pernah berkata mengenai diri Al-Imam Abdullah Al-'Aidrus, "Tidaklah aku nikahkan Asy-Syeikh Abdullah dengan putriku Aisyah, kecuali aku telah melihat dirinya berusaha dengan keras terhadap ahwal keluarga Ba'alawy semuanya." Itulah sikap yang telah ditunjukkan oleh para salafunas sholihin. Mereka tidak lain kecuali berjalan sesuai apa yang telah ditempuh oleh pendahulunya. Pernah diceritakan oleh Al-Habib Alwi bin Abdullah Al-Attas,"Ketika Syeikh Barakwah datang ke kota Tarim dengan tujuan untuk menarik dan mengajak Saadah Bani Alawy guna mengikuti thariqahnya, maka dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan Al-Faqih Al-Muqaddam. Di saat itu, Al-Faqih Al-Muqaddam berkata kepadanya, 'Keluar kau dari kota ini, agar keturunanku tidak terpedaya oleh kelakuanmu yang menarik itu.' Maka setelah itu, segera ia lari meninggalkan kota Tarim." Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad pernah berkata,"Tarim..., tidak ada di dalamnya kecuali Allah, Rasul-Nya, Al-Faqih Al-Muqaddam dan thariqah orang-orang yang berendah diri di hadapan Allah. Tidak datang kepada kami kecuali darinya. Dan sungguh para salaf kami telah membuat landasan-landasan bagi kami di dalam berbagai urusan, maka tidaklah kami mengikuti seseorang kecuali mereka."Al-Habib Abdullah bin Alwi Alhaddad juga pernah berkata dalam kitabnya Tatsbitul Fuad,"Adapun apa-apa yang telah berlalu dari salaf, baik yang sebelum jaman Asy-Syeikh Abdullah Alaydrus, maupun sampai jaman beliau, tidaklah kami ini kecuali terikat dengan mereka dan mengikuti apa-apa telah mereka bawa. Dan begitupun dari jaman beliau sampai jaman kita sekarang ini, tidaklah kami mengikuti kecuali apa-apa telah mereka lalui. Dan barangsiapa yang mengambil jalan baru, maka resiko akan ia tanggung sendiri."Dalam perkataannya tersebut, Al-Habib Abdullah Alhaddad memperingatkan kita untuk tidak mengambil jalan baru, jalan yang tidak ditempuh oleh para salaf kita. Beliau sampai-sampai pernah berkata,"Tidak sepantasnya bagi seorang dari keturunan Bani Alawy untuk memilih jalan di luar jalan yang sudah ditempuh oleh para pendahulunya. Tidak sepantasnya ia berpaling dari thariqah dan siroh mereka. Mereka bahkan harus sebaliknya, mengikuti dan bahkan berusaha menarik orang yang mengaku sudah mendapatkan jalan di luar jalan yang ditempuh olehnya dan oleh keluarga Bani Alawy. Hal ini dikarenakan thariqah mereka telah disaksikan nilai kebenarannya oleh Al-Qur'an, As-Sunnah, jejak-jejak sholihin dan perjalanan para salafus sholeh. Itu semua terjadi karena mereka (keluarga Bani Alawy) menerima thariqah tersebut generasi dari generasi sebelumnya, ayah dari kakeknya, dan terus begitu sampai kepada baginda Nabi SAW. Kedudukan (maqam) mereka bertingkat-tingkat (di sisi Allah), ada yang utama dan ada yang lebih utama, ada yang sempurna dan ada yang lebih sempurna."Dalam kalamnya yang lain beliau juga mengatakan,"Bagus dan memang sudah sepatutnya bagi orang dari keluarga Bani Alawy untuk menyeru manusia dan mengajak mereka kepada jalan yang telah ditempuh oleh pendahulunya. Betapa buruknya kalau ia justru membuang thariqah salafnya dan menyerahkan dirinya untuk mengikuti suatu thariqah yang bukan sebaik-baiknya thariqah. Semoga jangan demikian. Yang seharusnya ia dapat mengambil barakah dengan memegang perjalanan hidup para pendahulunya dan menaruh keyakinan kepada mereka. Berkenaan dengan hal itu, seseorang dari keluarga Bani Alawy tidak akan mendapatkan keberkahan selama-lamanya jika ia membuang thariqahnya dan memakai atribut yang bukan atribut para pendahulunya (semoga Allah meridhoi mereka semua)."Inilah peringatan bagi kita agar kita tidak berjalan menyimpang dari jalan para aslafunas sholihin. Terlebih lagi membuang thariqah salafnya dan menggantikannya dengan thariqah yang lain, serta berbangga karena hal itu. Lebih keras lagi Al-Habib Muhammad bin Ahmad bin Ja'far bin Ahmad bin Zein Alhabsyi memperingatkan,"Qodho (ketetapan) itu tidak dapat dipungkiri, dan syariat harus diikuti tanpa dikurangi dan ditambahi. Para imam kita keluarga Bani Alawy telah melintasi jalur yang mulus dan jalan yang lurus. Barangsiapa yang mencari aliran baru untuk dirinya sendiri atau untuk putra-putrrinya dengan cara tidak menempuh di jalan para datuk-datuknya yang saleh dan mulia, maka pada akhir umurnya ia akan menemui kekecewaan dan kebinasaan."Dan, sebagai penutup, marilah kita camkan sungguh-sungguh pesan dari Al-Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi kepada kita semua,"Siapa yang tidak menempuh jalan leluhurnya, pasti akan bingung dan tersesat.Wahai para cucu Nabi, tempuhlah jalan mereka"Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari fitnatuz zaman dan diberikan kekuatan untuk dapat berjalan di jalan para salaf kita.
Ya Robbi usluk binaa nahjath thoriiqis sawiyyahfi thoriiqin Nabiy was saadatil AlawiyyahYa Robbistajib wa'jal bi syarbah haniyyah
Wallohu a'lam...

PUISI INGGRIS KUNO


Sediakan waktu untuk bekerja; itulah harga sebuah keberhasilan.
Sediakan waktu untuk berpikir; itulah sumber kekuatan.
Sediakan waktu untukbermain; itulah rahasia awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca; itulah landasan kebijaksanaan.
Sediakan waktu untuk bermimpi; itulah yang membawa kereta anda ke bintang
Sediakan waktu untuk tertawa; itulah musik jiwa.
Sediakan waktu untuk berteman; itulah jalan menuju kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai; itulah hak istimewa yang diberikan Tuhan Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda; hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri.

(Sebuah puisi Inggris kuno - Old English Poem)

RUMAH SERIBU CERMIN


Dahulu, di sebuah desa kecil yang terpencil, ada sebuah rumah yang dikenal dengan nama "Rumah Seribu Cermin."Suatu hari seekor anjing kecil sedang berjalan-jalan di desa itu dan melintasi "Rumah Seribu Cermin". Ia tertarik pada rumah itu dan memutuskan untuk masuk melihat-lihat apa yang ada di dalamnya. Sambil melompat-lompat ceria ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu depan. Telinga terangkat tinggi-tinggi. Ekornya bergerak-gerak secepat mungkin. Betapa terkejutnya ia ketika masuk ke dalam rumah, ia melihat ada seribu wajah ceria anjing-anjing kecil dengan ekor yang bergerak-gerak cepat. Ia tersenyum lebar, dan seribu wajah anjing kecil itu juga membalas dengan senyum lebar, hangat dan bersahabat. Ketika ia meninggalkan rumah itu, ia berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sangat menyenangkan. Suatu saat aku akan kembali mengunjunginya sesering mungkin."Sesaat setelah anjing itu pergi, datanglah anjing kecil yang lain. Namun, anjing yang satu ini tidak seceria anjing yang sebelumnya. Ia juga memasuki rumah itu. Dengan perlahan ia menaiki tangga rumah dan masuk melalui pintu. Ketika berada di dalam, ia terkejut melihat ada seribu wajah anjing kecil yang muram dan tidak bersahabat. Segera saja ia menyalak keras-keras, dan dibalas juga dengan seribu gonggongan yang menyeramkan. Ia merasa ketakutan dan keluar dari rumah sambil berkata pada dirinya sendiri, "Tempat ini sungguh menakutkan, aku takkan pernah mau kembali ke sini lagi."Semua wajah yang ada di dunia ini adalah cermin wajah kita sendiri. Wajah bagaimanakah yang tampak pada orang-orang yang anda jumpai?

Sudah Tua Belajar Menghafal Quran

As-Syeikh Al-‘Allamah Muhammad Said Babshil Mufti Syafiiyyah di Mekah AlMusyarrofah bercerita, “Di antara karunia yang diberikan Allah kepadakuadalah ziarahku ke kota Madinah Al-Munawwaroh di masa hidup Syeikh MuhammadAl-‘Azb. Beliau rhm bercerita kepadaku, ‘Habib Alwi bin Zein Al-Habsyiadalah seorang yang saleh dan arif. Aku memperoleh manfaat dan madaddari beliau. Suatu hari beliau memintaku untuk mencarikan seorang yangfaqih, ahli baca Quran dan arif untuk membantu beliau menghapal Quran.Habib Alwi telah lanjut usia dan rabun penglihatannya. Beberapa hari kemudian aku datang ke rumahnya membawa seoranglelaki arif berkebangsaan Turki yang tinggal di kota Madinah sebagaimanayang beliau inginkan. Aku berpesan kepada si orang Turki ini agar beradabbaik, bersikap lembut, tidak membentak dan tidak mempersulit muridnya. Habib Alwi sangat senang dan mulailah beliau menghapal Quran. Beberapahari kemudian aku datang menengoknya. Aku mendengar sang guru membentak danbersikap tidak santun kepada beliau. Aku keberatan dengan sikapnya ini. “Syarat yang kuajukan kepadamu tidak seperti ini. Kelakuanmu Ini tidaksesuai dengan perjanjian kita. Kau seakan-akan tidak mengenal Habib Alwidan kebesarannya. Pergilah, kau tidak pantas mengajarnya,” kataku kepadasang guru. “Syeikh itu tidak menentangku. Aku rela diperlakukan demikian. Akubahkan rela bila syeikh itu memukulku,” kata Habib Alwi. “Maafkanlah aku atas perbuatannya padamu. Tidak ada yang pantasmengajarimu selain aku sendiri,” kataku kepada Habib Alwi Setelah kejadian itu, setiap hari, sebelum melihat bangunanku, akusinggah untuk mengajar beliau. Setiap kali akan mengajar, aku melihat jamuntuk mengatur lama pelajaran, baru kemudian aku menemuinya. Beliau lalumulai menghafal. Dalam waktu singkat beliau telah hafal 4 Mugro’ dengantajwid yang sempurna. Setiap kali meninggalkan beliau, aku selalu melihatjam. Ternyata jarum jam tetap berada di posisi ketika aku masuk, padahaljam itu berjalan seperti biasa, tidak rusak. Sadarlah aku bahwa iniadalah karomah beliau. Waktu menjadi berkah berkat beliau. Tak terasa 6 bulan telah lewat dan Habib Alwi telah hapal Quran. “Aku ingin membayar jerih payahmu mengajarku dan ini harus kulakukan,"kata Habib Alwi. “Tunggu hingga aku bermusyarawah dengan anak-anakku, karena merekaturut membantuku. Aku ingin mereka semua memperoleh keberkahan darimu,”kataku kepadanya. Kejadian ini lalu kuceritakan kepada anak-anakku: Sulaiman, Husein,Muhammad dan Abdul Mu’thi. Kami lalu mengunjungi beliau. Saat itu beliausedang mengadakan jamuan makan. Aku berkata kepada beliau, “Aku dananak-anakku telah tiba.” Kemudian masing-masing anakku menyampaikanhajat-hajat mereka. Ada di antara mereka yang berkata, “Aku ingin kedudukandan diterima oleh orang-orang Syam dan Mesir.” Aku sendiri jugamenyampaikan hajatku. Beliau lalu mengajak kami berziarah ke makam Al-Habib saw. Beliaukemudian membacakan Fatihah dengan niat agar Alloh mengabulkan permintaankami semua. Alhamdulillah, berkat kakek beliau saw dan himmah beliau yangsangat besar, Alloh mengabulkan semua permohonan kami.(dikutip dari kalam Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Juz I hal 111)

09 Maret, 2009

Profil Singkat Dan Nasehat Habib Lutfi Bin Yahya


Al-Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya Ba’Alawy Pekalongan, Ketua Jam'iyyah Ahlut Tariqah Al-Mu'tabarah An-Nahdliyyah (JATMN), organisasi di bawah NU yang mengkoordinasi jemaah tarekat Mu'tabarah.
Seorang muslim agar mendapatkan keselamatan Insya ALLAH, di dalam agama, dunia dan akhirat haruslah memegang teguh beberapa prinsip ini.
Pegang teguh teladan salaf shalihin
Baik itu thariqah-nya, akhlaknya, amal salehnya. Pegang teguh dan kuat mantap, walaupun kamu sampai sulit dan kere (sangat miskin) tetaplah teguh memegang teladan Salaf Shalihin. Gigit kuat dengan gerahammu, jangan dilepas jika kamu ingin selamat dan mendapat ridho-Nya. Jadikanlah keimanan sebagai Imam bukan akal yang menjadi ujung tombaknya. Hati-hati di akhir jaman ini, akan dan sudah banyak muncul paham dan orang-orang yang lebih mengedepankan akal-rasio-logika dibandingkan imannya. Seharusnya Iman menjadi imamnya, akal & logika menjadi makmumnya, mengikuti iman. Tinggalkan pendapat orang-orang yang mengedapankan akalnya dibanding imannya. Percuma dan sia-sia waktumu jika menanggapi orang-orang yang demikian, kamu akan rugi dunia akhirat. Karena bagaimana mungkin akal manusia bisa menerima seluruh kebesaran khazanah kerajaan Allah SWT, hanya keimanan yang dapat menerima kebesaran AllahSWT. Ziarah shalihin.
Baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup, dan kuatkan tali ikatan silaturahim. Berziarah (mengunjungi) kaum shalihin jangan hanya ketika ada maunya, kalau ada perlunya saja. Hal itu baik tidak terlarang, tetapi kurang kemanfaatannya untuk jangka panjang. Hanya untuk kebutuhan-manfaat sesaat belaka, sungguh sangat disayangkan. Tetapi alangkah baiknya kita berziarah sholihin itu karena mahabbah ilaa mahbub, kecintaan kepada yang dicintai. Kalau hal ini dijalin dengan baik maka ia akan mendapat limpahan madad (pertolongan), sirr asrar (rahasia) dan jaah (essence, intisari) dari ziarahnya. Dan sering silaturahmi itu menimbulkan kecintaan dan keridhoan Allah SWT kepada orang yang menjalin hubungan silaturahmi, sehingga rahmat dan berkah serta maghfirah Allah SWT terlimpah kepadanya. Jauh dari bala’, musibah, penyakit dan diberi kelancaran rezeki. Insya Allah.